Genotipe Pepaya Unggul

Di Indonesia tanaman pepaya (Carica papaya L.) banyak dijumpai, mulai dari Sabang hingga Merauke. Ada beragam bentuk dan jenis pepaya di tanah air kita. Beberapa diantaranya memiliki keunggulan tertentu sehingga digemari masyarakat produsen dan konsumen. Karena diminati masyarakat dan mempunyai nilai bisnis yang bagus maka keberadaannya dapat terus dilestarikan.

Program pemuliaan tanaman pepaya di Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB, (sebelumnya bernama Pusat Kajian Buah Tropika-PKBT) telah menghasilkan berbagai genotipe pepaya unggul. Diantaranya genotipe IPB 1, IPB 2, IPB 3, IPB 4, IPB 5, IPB 6C, IPB 8, IPB 9, dan IPB 10. Dari sembilan genotipe tersebut, yang telah banyak diuji coba untuk tujuan bisnis adalah IPB 1 (Arum Bogor), IPB 2 (Sukma), IPB 3 (Carisya), IPB 6 C, dan IPB 9 (Calina). Pepaya Arum Bogor dan Carisya berukuran kecil dan rasanya sangat manis, pepaya Sukma dan Calina berukuran sedang, sementara IPB 6 C dan IPB 10 berukuran besar. Ciri-ciri pepaya unggul produk dalam negeri yang amat mebanggakan tersebut perlu disosialisasikan agar menjadi pengetahuan masyarakat luas. Berikut adalah deskripsi pepaya unggul hasil pemuliaan PKHT, IPB Bogor.


Pepaya Arum Bogor memiliki keunggulan pada sosoknya yang kecil, bobotnya sekitar 0,50 - 0,63 kg. Dengan bentuk yangmini, Arum Bogor praktis untuk dikonsumsi, caranya dibelah, bijinya dibuang, dan langsung disantap menggunakan sendok, tanpa mengupasnya lebih dahulu. Deskripsi pepaya unggul Arum Bogor sbb: 

Bentuk buah Lonjong, Ukuran buah kecil, Panjang buah 14,1+/- 1,6 cm, Diameter buah 10,1 +/- 0,7 cm, Bobot per buah 605 +/- 167 g, Warna daging buah kemerahan/jingga, Warna kulit buah hijau sedang, Rasa daging buah sangat manis (11-13o Brix), Kadar air 88 +/- 2 %, Kadar vitamin C 82,1 +/- 6,2 (mg/100 g), Jumlah biji 803 +/- 159, Bobot 100 biji 7,6 +/- 0,8 g, Umur petik +/- 140 hari setelah antesis.


Berbeda dengan IPB 1, pepaya IPB 2 memiliki karakteristik fisik buah lebih besar. Nama lain dari IPB 2 adalah Prima Bogor yang memiliki keistimewaan daging buahnya berwarna merah jingga, kulitnya hijau, dan tahan disimpan, bobot rata-rata perbuah 2,27 kg. Deskripsi pepaya unggul Prima Bogor sbb: 

Bentuk buah Lonjong, Ukuran buah sedang, Panjang buah 27,8 +/- 2,4 cm, Diameter buah 10,8 +/- 0,4 cm, Bobot per buah 1.333 +/- 280,4 g, Warna daging buah kemerahan/jingga, Warna kulit buah hijau tua, Rasa daging buah manis (10-11o Brix), Kadar air 90 +/- 1 %, Kadar vitamin C 69,2 +/- 3,6 (mg/100 g), Jumlah biji 650,3 +/- 61,2, Bobot 100 biji 12,4 +/- 1,3 g, Umur petik +/- 150 hari setelah bunga mekar (antesis).


Pepaya Carisya mempunyai keistimewaan pada kadar gulanya yang bisa mencapai 14o brix, ukuran buah kecil, daging buah tebal, berwarna jingga kemerahan, serta berongga kecil. Deskripsi pepaya unggul Carisya sbb: 

Bentuk buah Lonjong, Ukuran buah kecil, Panjang buah 17,0 +/- 0,8 cm, Diameter buah 8,0 +/- 0,4 cm, Bobot per buah 573,3 +/- 75,1 g, Warna daging buah kemerahan/jingga, Warna kulit buah hijau tua, Rasa daging buah manis (10,7o +/- 2,5o Brix), Kadar air 90 +/- 1 %, Kadar vitamin C 110,8 +/- 17,3 (mg/100 g), Jumlah biji 784,7 +/- 115,9, Bobot 100 biji 7,9 +/- 0,9 g, Umur petik +/- 140 hari setelah antesis (bunga mekar).


Pepaya Calina memiliki daging buah yang lebih tebal, manis, dan produktivitasnya tinggi. Bobotnya 1,5 kg dengan tingkat kemanisan 11o brix, bentuknya silindris dan kulit buah berwarna hijau nan mulus. Deskripsi pepaya unggul Calina sbb:

Bentuk buah Silindris, Ukuran buah sedang, Panjang buah 23,00 +/- 0,00 cm, Diameter buah 9,36 +/- 0,18 cm, Bobot per buah 1236,67 +/- 63,51 g, Warna daging buah jingga, Warna kulit buah hijau, Rasa daging buah manis (10,67o +/- 0,58 Brix), Kadar vitamin C 78,6 +/- 5,7 (mg/100 g), Jumlah biji 1048,00 +/- 84,87, Bobot 100 biji 7,89 +/- 0,08 g, Umur petik +/- 180 hari setelah antesis (bunga mekar).


Keisitimewaan pepaya IPB 4 adalah kulit buahnya yang berwarna kuning. Selain manis, ukuran buah yang kecil sangat pas untuk dikonsumsi sebagai buah meja segar. Deskripsi pepaya unggul Carisya sbb: 

Bentuk buah Lonjong, Ukuran buah kecil, Panjang buah 15,50 +/- 0,0 cm, Diameter buah 8,25 +/- 0,22 cm, Bobot per buah 513,33 +/- 11,55 g, Warna daging buah jingga, Warna kulit buah kuning,Tekstur kulit buah halus,Rasa daging buah manis (10,67o +/- 2,31o Brix), Kadar vitamin C (mg/100 g) 110,8 +/- 17,3, Jumlah biji 784,7 +/- 115,9, Bobot 100 biji 7,9 +/- 0,9 g, Umur petik +/- 150 hari setelah antesis (bunga mekar).

Jenis Jamur Tiram

Beberapa jenis jamur tiram yang dapat dibudidayakan adalah sbb:

JENIS NAMA UMUM/DAGANG WARNA

1. Pleuorotus floridae White oyster Putih bersih

2. P. ostreatus Tree oyster, hiratake, straw mushroom Putih, putih kekuningan

3. P. cystidious Abalone, maple oyster Putih, kemerahan

4. P. citrinopileatus Golden oyster Kuning keemasan

5. P. djamor Pink oyster, takira hiratake, flamingo mushroom Ungu kemerahan

6. P. eryngii King oyster Kebiruan

7. P. euosmus Terragon oyster Kecokelatan

8. P. flabellatus Red oyster Merah jambu

9. P. pulmonarius Indian oyster, phoenix mushroom Putih keabu-abuan

10. P. sajor-caju Jamur tiram Kelabu

Budidaya Jamur Tiram Skala Rumah Tangga

Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur yang cukup mudah dibudidayakan. Penyesuaian terhadap kondisi tidaklah terlalu sulit. Usaha jamur tiram mudah dijumpai di mana-mana dan telah banyak diusahakan dalam skala kecil/rumah tangga, baik hanya mengusahakan pembiakan bibitnya dan kemudian menjualnya atau mulai membibitkan hingga membudidayakannya. Beberapa jenis jamur tiram yang dapat dibudidayakan terlampir.


Untuk mendapatkan produk panen yang baik diperlukan bibit yang baik, dan perlakuan selama masa pemeliharaan. Ada dua cara untuk memperoleh bibit jamur tiram, yakni dengan membuat sendiri melalui pembiakan bibit murni untuk mendapatkan bibit F1 atau dengan membeli bibit F2, F3, atau F4 dari pembudidaya atau instansi penyedia bibit.


Untuk budidaya digunakan Bibit generasi ke 4 atau F4. Tahapan dalam budidaya jamur tiram di antaranya adalah sebagai berikut.
  • Menyiapkan media tanam. Media tanam yang bisa digunakan sebagai media tumbuh jamur tiram adalah kombinasi dari serbuk gergaji kayu (80%), bekatul (10-15%), kapur CaCO3 (3%), dan air secukupnya (kandungan 40-60%).
  • Fermentasi media tanam. Kegiatan ini penting dilakukan sebelum media digunakan untuk menanam jamur. Caranya media tersebut didiamkan selama 5-10 hari atau disesuaikan dengan kondisi bahan. Tujuannya adalah agar terjadi proses pelapukan/pengomposan pada media.
Selama proses fermentasi, suhu media akan meningkat hingga mencapai 70oC, dan selama itu pula dilakukan pembalikan media setiap harinya agar proses pelapukan bisa merata di semua bagian media. Selain mempercepat pelapukan, fermentasi juga bertujuan untuk mematikan jamur liar yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur tiram. Media yang siap digunakan ditandai dengan berubahnya warna media menjadi cokelat atau kehitaman.


Media tanam yang telah difermentasi dapat dimasukkan ke dalam kantong plastik jenis polipropilen. Media tersebut kemudian dipadatkan hingga berbentuk seperti botol (baglog). Selanjutnya, pada bagian atas plastik (leher kantong plastik) dipasang ring, disumbat menggunakan kapas, dan dipasang penutup baglog agar air tidak masuk ke dalam kantong pada saat pengukusan.

Setelah baglog siap, proses sterilisasi dapat dilakukan, yakni dengan cara mengukusnya. Wadah pengukus paling sederhana yang dapat digunakan adalah drum. Satu drum dapat memuat sekitar 60 baglog. Prinsip kerja sterilisasi adalah memanfaatkan panas uap air pada suhu 95o-110oC dalam waktu 8-10 jam. Ketika suhu pengukusan telah mencapai 100oC, pertahankan selama 5 jam. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu 100oC adalah 3 jam, tergantung dari kestabilan api di tungku. Selanjutnya, wadah pengukus dibuka dan didiamkan selama 5 jam agar suhu media tanam dalam baglog kembali normal.


Baglog yang telah disterilisasi sebaiknya dipindahkan ke tempat inokulasi dan didiamkan selama 24 jam untuk mengembalikannya ke suhu normal. Ruangan inokulasi harus dalam keadaan steril dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Hal ini penting untuk meminimalisir tercemarnya baglog dari spora patogen atau bakteri. Berikut tahap-tahap pengisian bibit ke dalam baglog:
  • Ambil botol bibit F3, lalu semprotkan alkohol ke botol tersebut. Panaskan sebentar mulut botol di atas api spiritus hingga sebagian kapas terbakar, lalu matikan api.
  • Setelah kapas penyumbat botol bibit dibuka, aduk-aduk menggunakan kawat yang sudah disterilkan di atas api.
  • Masukkan bibit dari botol ke baglog hingga leher baglog penuh, lalu tutup kembali dengan kapas. Setiap baglog diisi sekitar 10 g bibit.

Inkubasi atau pemeraman bertujuan agar bibit yang telah diinokulasi segera ditumbuhi miselium. Untuk menunjang pertumbuhan miselium pada jamur tiram, idealnya ruang inkubasi memiliki suhu 24o-29oC, kelembapan 90-100%, cahaya 500-1000 lux, dan sirkulasi udara 1-2 jam. Setelah 15-30 hari masa inkubasi, biasanya miselium sudah tumbuh hingga separuh bagian baglog. Bila miselium telah memenuhi baglog, pertanda baglog siap dipindahkan ke rumah kumbung untuk dibudidayakan hingga proses pemanenan. Namun, bila dalam waktu 1 bulan dari masa inkubasi baglog tidak ditumbuhi miselium, berarti proses inokulasi yang dilakukan tidak berhasil.

Persiapan Budidaya Pepaya Unggul

Suatu komoditas pepaya unggul tidak akan menampakkan keistimewaannya jika tidak disertai dengan teknik budidaya yang benar. Semua aspek teknik budidaya yang tepat perlu diterapkan untuk memaksimalkan potensi keunggulan setiap jenis pepaya yang ditanam. Dengan memperhatikan dan menerapkan aspek budidaya yang tepat diharapkan pepaya unggul seperti Calina (IPB 9), Carisya (IPB 3), Arum Bogor (IPB 1) dan pepaya unggul lainnya akan menghasilkan buah pepaya yang berkualitas. Teknik budiya yang perlu diterapkan pada tahap persiapan adalah pemilihan lokasi, persiapan lahan, dan persiapan benih dan bibit.


Tanaman pepaya dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi. Pertumbuhan yang optimal dicapai pada ketinggian 200 - 500 m dpl, daerahnya beriklim tropis dengan sinar matahari penuh tanpa naungan. Suhu optimal yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya berkisar 22 - 26o C

Kondisi tanah yang sesuai untuk pepaya adalah tanah yang subur, gembur, drainase baik dan pH tanah atau keasaman tanah sekitar 6 - 7. Jika pH tanah dibawah 5, maka perlu ditambahkan kapur pertanian untuk menaikkan pH nya sehingga pertumbuhan dan produksi pepaya maksimum. 

Air di lokasi kebun pepaya perlu dijamin ketersediaannya. Tanaman pepaya sensitif terhadap kekurangan dan kelebihan air. Kekurangan air menyebabkan pepaya tidak bisa tumbuh dengan baik, manakala kelebihan air akibat genangan dapat menyebabkan akar menjadi busuk dan mudah terserang penyakit akar sehingga tanaman menjadi layu dan mati. Oleh sebab itu lokasi yang ideal untuk tanaman pepaya adalah yang curah hujannya 1.000 - 2000 mm/tahun dengan bulan kering (Curah Hujan kurang dari 60 mm) selama 3-4 bulan.


Setelah lokasi penanaman ditetapkan, pekerjaan selanjutnya adalah persiapan lahan yang meliputi :

1. Pembersihan lahan, dilakukan agar lokasi kebun bersih dari semak, gulma, dan sampah/kotoran. Gunakan peralatan kerja yang sesuai untuk membersihkan, misalnya golok untuk memotong dahan dan ranting tanaman penggangu, cangkul untuk membersihkan gulma, tunggul tanaman dan untuk membuat lubang tanam. 

Lahan yang sudah bersih dicangkul sedalam 30-40 cm, lalu digemburkan dan diratakan. Pemberian kapur pertanian diperlukan jika lahan dalam keadaan masam (pH tanah kurang dari 5). Dosis kapur yang diberikan disesuaikan dengan pH tanah di lapang, dan dengan jumlah kapur yang sesuai maka diharapkan keasaman tanah akan meningkat hingga mencapai 6-7.

2. Pembuatan bedengan, dilakukan menggunakan cangkul sehingga terbentuk bedengan dengan lebar 1,0 - 1,5 meter, jarak antar bedengan 0,5 - 1,0 m, tinggi bedengan 30-40 cm dan panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan. Di antara dua bedengan dibuat parit untuk saluran drainase, dalamnya sekitar 0,75 cm dan lebarnya 0,5 - 1,0 m. 

3. Pengaturan jarak tanam, perlu dilakukan untuk memperoleh jarak tanam yang ideal disesuaikan dengan kondisi lahan, datar ataukah berlereng. Pada tanah datar, populasi lebih banyak dibandingkan dengan tanah berlereng. Jarak tanam pepaya antar barisan/bedeng 2,5 - 3,0 m dan jarak antar tanaman dalam barisan/bedeng antara 2,0 - 2,5 m. Dengan jarak tanam tersebut diharapkan penyerapan hara dan pertumbuhan tanaman optimal. 

Sebagai contoh, untuk sebidang tanah datar yang luasnya satu hektar (100 m x 100 m), di sekeliling pertanaman diberi jalan selebar 2 meter, pepaya ditanam berjarak 2,5 m x 2 m, pola tanamnya sejajar dan teratur, maka jumlah tanaman yang ideal 1400 pohon.

4. Membuat lubang tanam, dilakukan di tengah bedengan. Ukuran tiap lubang, panjang 50 cm, lebar 50 cm, dan kedalaman 50 cm. Jarak antar lubang 2,5 m. Pada saat pembuatan lubang, antara tanah lapisan atas dan lapisan bawah perlu dipisah. Lubang dibiarkan terbuka dan terpapar sinar matahari selama 2 minggu untuk mematikan cendawan dan bakteri yang merugikan tanaman pepaya. Dua minggu sebelum tanam, masukkan pupuk organik ke dalam lubang tanam dan dicampur dengan tanah lapisan bawah. Tanah lapisan atas digunakan untuk menutup tanah setelah bibit ditanam.


Benih dan bibit perlu dipersiapkan dengan baik. Bibit yang sehat merupakan langkah awal kesuksesan budidaya pepaya unggul.

1. Persiapan benih, dilakukan dengan memilih benih pepaya unggul yang akan ditanam. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih varietas pepaya adalah sebagai berikut:
  • Pilih varietas yang memiliki keunggulan, diminati konsumen dan benihnya bersertifikat.
  • Lakukan ceking kualitas benih yang akan disemai dengan kriteria tingkat kemurnian lebih dari 95%, Daya kecambah lebih dari 90%, Vigoritas kecambah tinggi, dan benih sehat serta bebas dari organisma pengganggu tanaman. 
2. Pembibitan, bertujuan untuk mendapatkan bibit pepaya yang sehat, tumbuh secara optimal, dan mempunyai daya adaptasi yang baik. Dalam pembibitan ada beberapa tahap yang perlu dilakukan, yaitu:
  • Penyiapan media tanam, yaitu campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Media tanam ini dimasukkan ke dalam polibag kecil berukuran 8 cmx 10 cm. Sebelum benih disemai, media tanam perlu disiram air secukupnya.
  • Penyemaian benih, yaitu menanam benih 2 butir setiap polibag pada kedalaman 1 - 2 cm. Sebelum disemai, benih direndam dalam air hangat/suam-suam kuku, suhu sekitar 40o C. Air rendaman dicampur fungisida berbahan aktif Propamokkarb hidroklorida (Previkur N) dengan konsentrasi 2ml/liter air atau Benomyl/Benlate konsentrasi 0,5 g/liter air selama 4 - 6 jam sebelum disemai.
  • Pemeliharaan bibit, yaitu pemeliharaan persemaian secara intensif meliputi penyiraman, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit. Lakukan penyiraman pagi dan sore hari, bibit diberi pupuk daun dengan konsentrasi 1,0 - 1,5 gram per liter air. Penyemprotan dengan pestisida perlu juga dilakukan menggunakan jenis pestisida yang sesuai, namun konsentrasinya perlu mengikuti petunjuk penggunaannya.

Pemeliharaan dan Penanaman Bibit Pepaya

Tanaman pepaya tumbuh optimal pada daerah beriklim tropis dengan sinar matahari penuh tanpa naungan. Suhu optimal yang dibutuhkan untuk pertumbuhan pepaya berkisar 22o - 26o C. Selain iklim, faktor lain yang mempengaruhi tanaman papaya adalah ketinggian tempat, kondisi kesuburan fisik dan kimiawi tanah, ketersediaan air, organisma pengganggu tanaman, jarak tanam, pemupukan dan pengairan sesuai dengan keperluan. 

Apabila satu atau lebih dari faktor yang diperlukan tersebut dalam keadaan terganggu atau tidak normal, maka pertumbuhan tanaman dan produksi pepaya akan terpengaruh. Gangguan dimaksud dapat terjadi sejak di persemaian hingga tanaman telah dipindah ke kebun. Untuk itulah maka diperlukan pemeliharaan yang baik sejak tanaman masih muda dan berada di persemaian, hingga tanaman telah dipindah ke kebun.


Bibit tanaman pepaya yang baru tumbuh di persemaian polibag perlu dipelihara dengan baik agar berkembang menjadi bibit yang sehat dan kuat. Pemeliharaan meliputi pekerjaan penyiraman, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit. Setelah bibit cukup umur dan tumbuh kuat, selanjutnya ditanam di kebun.

Penyiraman bibit pepaya dilakukan agar persemaian selalu dalam keadaan lembap, tetapi tidak boleh terlalu basah. Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari. Selain itu, untuk menjaga kesuburannya, bibit perlu disemprot dengan pupuk daun. Misalnya Complesal Special Tonic atau Mamigro dengan konsentrasi 1,0 - 1,5 gram per liter air. Agar tanaman tidak diserang hama dan penyakit, maka perlu disemprot dengan pestisida. Ada banyak jenis pestisida yang dapat digunakan untuk tanaman pepaya di persemaian, misalnya pestisida Marshal atau Kocide 77 dengan konsentrasi 0,5 - 1,0 gram per liter air. Penyemprotan dengan pestisida perlu juga dilakukan menggunakan jenis pestisida lain yang sesuai, namun konsentrasinya perlu mengikuti petunjuk penggunaannya.


Kegiatan penanaman bibit pepaya turut menentukan keberhasilan dari budidaya. Oleh sebab itu proses penanaman harus dilakukan dengan benar dan diiringi dengan pemeliharaan yang teratur sehingga tanaman dapat tumbuh optimal. Benih dan bibit perlu dipersiapkan dengan baik karena bibit yang sehat merupakan langkah awal kesuksesan budidaya pepaya unggul.

Setelah umur bibit pepaya telah mencukupi, selanjutnya bibit pepaya perlu ditanam di lahan yang sudah disiapkan. Dalam penanaman, ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu waktu penanaman dan cara menanam.


Kondisi iklim di suatu lokasi berbeda antara yang satu dengan lainnya. Oleh sebab itu waktu penanaman pepaya harus dilakukan pada saat yang tepat. Ketetapan waktu tanam akan memberi harapan yang baik bagi pertumbuhan bibit pepaya menjadi optimum.

Dalam keadaan yang normal, benih pepaya mulai berkecambah di persemaian setelah 2-3 minggu ditanam. Bibit sudah boleh ditanam di kebun setelah tanaman berumur 30 - 40 hari. Pada umur tersebut bibit telah memiliki 2 - 3 pasang daun sejati dengan tinggi tanaman 10 - 20 cm. Penanaman bibit ke lapang sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Sehari sebelum penanaman, lubang tanaman pada bedengan disiram air terlebih dahulu sampai basah. 

Untuk menentukan waktu penanaman, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya:
  • Tentukan rata-rata curahnhujan bulanan untuk mengetahui bulan basah di daerah lokasi penanaman. Dalam hal ini curahbhujan bulanan harus lebih dari 100 mm/bulan.
  • Tentukan bulan basah di daerah tersebut.
  • Pilih dan lakukan pengolahan tanah pada awal bulan basah.
  • Penanaman dilakukan pada pagi atau sore hari. Jangan menanam bibit pada siang hari karena bisa menyebabkan tanaman layu.


Pemindahan bibit pepaya dari persemaian ke lapangan harus dilakukan secara hati-hati agar akarnya tidak mengalami kerusakan. Cara peaman bibit ke lapang adalah sebagai berikut.
  • Siram media tanam dalam polibag hingga cukuo basah.
  • Lepaskan polibag dari media tanam secara hati-hati, bila perlu polibag dirobek. Upayakan media tanam tetap kompak atau tidak pecah.
  • Masukkan bibit ke dalam lubang tanam sedalam leher akar (pangkal batang bibit), kemudian timbun dengan tanah galian.
  • Padatkan tanah di sekitar bibit secara perlahan.
  • Upayakan posisi bibit dalam keadaan tegak setelah ditanam.
  • Setelah selesai penanaman, siram bibit hingga basah agar tanaman tidak layu. Namun penyiraman tidak perlu sampai airnya tergenang.
  • Untuk mempertahankan kelembapan tanah, tutup tanah di sekitar batang pepaya dengan mulsa jerami padi.
  • Penyiraman selanjutnya dilakukan setiap pagi dan sore hari terutama saat musim kering.

Pemeliharaan Tanaman Pepaya

Sejak di persemaian hingga bibit ditanam di lahan kebun, pemeliharaan harus dilakukan secara teratur untuk memaksimalkan potensi keunggulan setiap jenis pepaya yang ditanam. Pekerjannya meliputi pengairan, pemupukan, seleksi tanaman, sanitasi kebun, penjarangan buah, pembungkusan buah, serta pengendalian hama dan penyakit. 


Tanaman pepaya memerlukan air yang cukup selama pertumbuhannya. Pada umumnya pengairan dengasn sistem tadah hujan, dan oleh karena akarnya yang sangat lebat maka tanaman pepaya tahan kekeringan. Kekurangan air pada masa pertumbuhan generatif akan menyebabkan bunga dan buah rontok, sehingga produksi dan mutu buah menuruin. Untuk itu pengairan harus dilakukan secara teratur agar keperluan airnya dapat terpenuhi sepanjang siklus hidup tanaman.

Untuk mencegah kekeringan, pada musim kemarau intensitas pengairan perlu ditingkatkan. Oleh karena itu perlu disediakan bak penampung air agar keperluan air untuk setiap tanaman dapat dipenuhi. Untuk bibit yang baru tanam, perlu diberi air 1 - 2 liter per hari, dan 20 - 25 liter untuk tanaman muda hingga dewasa. Untuk tanaman yang sedang berbuah keperluan airnya 30-35 liter per hari. Pemberian air dilakukan pagi dan sore hari.


Tanaman pepaya perlu dipupuk secara rutin untuk menjamin ketersediaan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman dan mempertahankan kesuburan tanah. Ada dua jenis pupuk yang diperlukan, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik atau pupukbuatan. Pupuk organik berasal dari kotoran hewan dan sisa tanaman yang telah lapuk, sedangkan pupuk anorganik berupa pupuk pabrik, misalnya Urea, SP36, dan pupuk kalium. Jumlah kebutuhan hara tanaman pepaya adalah 1 kg Nitrogen; 0,2 kg P2O5; dan 2,5 kg K2O untuk setiap ton buah pepaya.

Pupuk buatan diberikan sebulan setelah tanam dan kembali diulang setiap tiga bulan. Pupuk organik diberikan sebelum tanam sebagai pupuk dasar atau bisa juga pada saat tanam. Jumlahnya sekitar 20 kg per tanaman. Kemudian setiap 4 bulan pupuk organik perlu diberikan kembali dengan dosis yang sama.


Seleksi tanaman perlu dilakukan untuk memilih tanaman yang sehat dan berbunga sempurna/hermaprodit, sehingga diharapkan produktivitasnya tinggi. Jika pada awalnya setiap lubang ditanam 2 bibit, maka setelah tanaman berbunga dipilih hanya satu tanaman saja. Bunga pertama muncul pada saat umur tanaman sekitar 3-4 bulan. Seleksi dilakukan dengan cara memotong tanaman yang berbunga jantan atau betina. Pemotongan batang rapat dengan tanah.


Sanitasi kebun bertujuan untuk menjaga kebersihan kebun dan menjaga kesehatan tanaman pepaya. Pekerjaan yang dilakukan dalam sanitasi adalah pembumbunan, penyiangan, dan mengobati atau membuang bagian tanaman yang terserang penyakit. Pembumbunan dan penyiangan bertujuan agar tanah di sekitar tanaman tetap gembur dan bersih. Dengan demikian unsur hara mudah diserap tanaman dan mengurangi kompetisi unsur hara antara gulma dengan tanaman pepaya.

Beberapa kegiatan yang harus diperhatikan dalam sanitasi kebun adalah: a) Penyiangan dilakukan pada musim penghujan karena pada saat itu banyak gulma tumbuh, b) Gulma atau rerumputan yang tumbuh di bawah tajuk tanaman dan sekitar pertanaman perlu dibersihkan dengan hati-hati agar tidak merusak perakaran tanaman, c) Rumput diluar tajuk tanaman juga perlu dibersihkan untuk menghindari penularan hama dan penyakit melalui gulma, d) Bersamaan dengan penyiangan gulma sebaiknyta tanah di sekitar piringan tanaman digemburkan atau dibumbun, e) Daun dan buah yang sakit atau yang menunjukkan tanda-tanda terserang hama dan penyakit harus dibuang dan dibakar. Namun jika seuruh bagian tanaman terserang maka tanaman perlu dibongkar dan dibuang.


Buah pepaya yang terlalu lebat dan/atau bentuknya tidak baik perlu dijarangkan atau dibuang. Beberapa calon buah yang terdapat pada satu buku tanaman dapat dikurangi sehingga tersisa satu buah dalam satu bagian buku tanaman. Dengan demikian buah akan mampu berkembang sempurna.


Pembungkusan buah dapat dilakukan dengan menggunakan kertas koran yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran buah. Kertas koran dibalutkan di sekeliling buah, kemudian diselotip. Dengan demikian antar buah atau antara buah dengan bagian tanaman lainnya tidak terjadi gesekan. Gesekan dapat mengakibatkan luka pada kulit pepaya yang bisa menjadi tempat bersarangnya hama dan penyakit.

Jika pembungkusan atau pelapisan buah tidak bisa dilakukan karena jarak antarbuah terlalu rapat, maka cara lain yang dapat dilakukan yaitu dengan mengurangi resiko serangan hama dan penyakit melalui penyemprotan desinfektan. Cairan detergen yang dicampur air dapat digunakan untuk menyemprot buah dengan interval waktu sebulan sekali.


Hama dan penyakit merupakan salah satu faktor penentu dalam usahatani pepaya. Kerusakan akibat serangan hama dan penyakit tidak hanya akan murunkan kualitas dan kuantitas buah, tetapi juga dapat mematikan tanaman secara keseluruhan.

Beberapa hama penting yang menyerang tanaman pepaya adalah kutu putih (Paracoccus marginatus), kutu daun (Myzuz persicae), dan tungau merah (Tetranychus kanzawai). Sedangkan penyakit yang menyerang adalah penyakit busuk akar dan pangkal batang (Phytophthora palmivora Butl), Antraknosa (Colletotrichum gloeoporioides), Layu bakteri, dan Viris mozaik.

Pengendalian hama dan penyakit sebaiknya dilakukan secara terpadu menggunakan berbagai cara, seperti menggunakan bibit yang sehat, pemupukan berimbang, sanitasi lingkungan, dan pengendalian hama dan penyakit tanaman pepaya menggunakan insektisida dan herbisida yang dianjurkan sesuai dengan jenis hama dan penyakit yang menyerang.

Kebutuhan Hara dan Pemupukan Tanaman Pepaya

Kebutuhan nutrisi yang seimbang merupakan faktor penting bagi pertumbuhan tanaman dan produksi pepaya. Tanaman pepaya membutuhkan hara makro (Nitrogen/N, Fospor/P, dan Kalium/K) dan hara mikro (Calsium, Magnesium, Boron, dan Zincum/seng) secara lengkap dan berimbang. Kekurangan dan kelebihan salah satu dari unsur-unsur tersebut berakibat pada terganggunya pertumbuhan tanaman, produksi, dan kualitas buah.



Nitrogen tergolong unsur penting yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Unsur ini biasa diaplikasikan dalam bentuk pupuk urea, kalium nitrat, kalsium nitrat, amonium nitrat, atau berupa pupuk majemuk NPK. Kelebihan nitrogen mengakibatkan buah terlalu lunak, dan tumbuhnya anakan yang berlebihan. Tanaman yang kelebihan nitrogen ditandai dengan warna daun yang terlalu hijau saat tanaman muda, banyak mengeluarkan getah, dan luka seperti memar berwarna cerah di tangkai daun. Sebaliknya, kekurangan nitrogem ditandai dengan warna pucat pada tanaman dan daun yang menguning.

b. Fospor

Fospor berperan penting dalam perkembangan sistem perakaran, inisiasi bunga, dan pembentukan buah. Aplikasi fospor pada pemupukan biasanya dalam bentuk superfospat (SP36), dan pupuk ini sebaiknya diberikan sebelum penanaman atau sebelum musim hujan. Ketersediaan fospor dalam tanah relatif sedikit di tanah asam, tanah dengan kandungan besi yang tinggi, serta tanah yang kerap tercuci. Kekurangan fospor akan mengakibatkan tajuk tanaman mengecil, bunga mudah gugur, serta pembentukan buah sedikit.

c. Kalium

Peran penting kalium dalam pertumbuhan tanaman adalah mempengaruhi kualitas buah. Unsur ini biasanya diaplikasikan dalam bentuk kalium nitrat. Kebutuhan tanaman akan unsur kalium semakin meningkat selama pembentukan dan perkembangan buah. Kelebihan kalium dapat mengakibatkan tangkai daun rapuh dan memengaruhi penyerapan kalsium dan magnesium oleh tanaman. Sementara itu, kekurangan kalium dapat mengakibatkan bagian tepi daun seperti terbakar dan tidak terjadi aliran getah akibat kulit buah yang rusak. Hal ini mengakibatkan tanaman lebih rentan terkena penyakit dan kualitas buah menurun.

d. Kalsium

Kalsium diberikan untuk tanaman dalam bentuk kalsium nitrat atau dolomit untuk tanah masam. Sementara itu, di tanah yang PH nya tinggi, kalsium diaplikasikan dalam bentuk kalsium sulfat. Kelebihan kalsium pada tanaman dapat mempengaruhi keseimbangan kalsium, kalium, dan magnesium dalam tanaman. Sebaliknya, kekurangan kalsium pada tanaman ditandai dengan pembentukan buah yang berkurang, kualitas buah yang menurun, serta daging buah yang terlalu lunak saat buah matang.

e. Magnesium

Magnesium diaplikasikan ke tanaman dalam bentuk dolomit untk tanah masam dan berupa magnesium sulfat atau magnesium oksida untuk tanah basa. Kelebihan magnesium pada tanaman akan memengaruhi keseimbangan kandungan kalium dan kalsium dalam tanaman. Sebaliknya, kekurangan magnesium berdampak terhadap daun tua, tulang daun yang menebal dan berwarna hijau, serta daerah antara tulang daun berwarna hijau terang atau kekuningan.

f. Boron

Aplikasi boron untuk pemupukan tanaman berupa borax. Kekurangan atau defisiensi boron tampak di daerah dekat dengan pantai yang ditandai dengan daun muda yang menguning. Jika tanaman dapat bertahan, buah yang dihasilkan akan membesar di beberapa bagian, pengisian buah berkurang dan pertumbuhan tanaman kritis. Sebaliknya, kelebihan aplikasi boron akan menyebabkan nekrosis di tepi daun dengan kondisi berwarna coklat dan lama kelamaan daun akan mati. Bercak nerkrosis juga terdapat di bagian antara tulang daun.

g. Zinc (Seng)

Seng dibutuhkan bagi pertumbuhan daun. Kekurangan unsur seng dalam tanaman dapat disebabkan oleh kelebihan aplikasi fospor.



Pupuk yang diberikan kepada tanaman pepaya berupa pupuk organik dan anorganik. Aplikasikan pupuk kandang sebagai pupuk dasar di lubang tanam, pemupukan berikutnya dilaksanakan sebulan setelah tanam, lalu dilanjutkan secara teratur tiga bulan sekali selama masa produksi. Dosis pupuk yang diberikan berbeda-beda karena disesuaikan dengan umur tanaman. 

Pupuk yang diberikan adalah pupuk anorganik tunggal berupa urea atau ZA, SP36, dan KCl, atau dapat juga diberi pupuk majemuk NPK. Tujuannya untuk memasok hara yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan mempertahankan kesuburan tanah. Cara pemupukan yang dianjurkan sebagai berikut:
  1. Buat larikan sedalam sekitar 10 cm di sekeliling pohon pepaya dengan jarak 50 cm dari batang.
  2. Taburkan pupuk di larikan dan kemudian ditutup kembali dengan tanah.
Adapun jadwal pemupukan dan dosis pupuk adalah sebagai berikut: 

Pupuk dasar diberikan pada saat bit pepaya ditanam di kebun, berupa 20 kg pupuk kandang dan SP36 100 gram per pohon. Pupuk susulan diberikan sebulan kemudian berupa 70 gr urea, 50 gr SP36, dan KCl 40 gr setiap pohon. Kemudian pupuk diberi lagi setiap 3 bulan. 

Pada bulan ke empat diberi 150 gr urea, 100 gr SP36, dan KCl 100 gr setiap pohon, pada bulan ke tujuh diberi 200 gr urea, 150 gr SP36, dan KCl 160 gr setiap pohon, dan bulan ke 10 diberi 230 gr urea, 150 gr SP36, dan KCl 160 gr setiap pohon. 

Demikian seterusnya pupuk selalu diberi secara reguler sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Dosisnya ditingkatkan karena tanaman sudah semakin membesar dan umurnya bertambah. Dengan pertumbuhan dan perkembangan, maka akar tanaman sudah merambah sangat jauh dari pohon pepaya.