Panen dan Pasca Panen Tanaman Alpukat

A. Panen

Panen buah alpukat dilakukan hanya pada buah yang sudah tua belum masak. Panen alpukat jangan terlalu awal, tetapi juga jangan terlalu lambat. Bila panen terlalu awal rasa khas alpukat akan berkurang dan kulitnya mudah berkerut dan bila panen terlambat, buah alpukat akan cepat masak dan tidak tahan disimpan lama.

1. Ciri-ciri buah alpukat yang tua
  • Warna kulit tua tetapi belum menjadi coklat/ merah dan tidak mengkilap.
  • Bila buah diketuk akan menimbulkan bunyi yang tidak nyaring.
  • Bila buah digoyang-goyang akan terdengar bunyi akibat tumbukan antara biji dan daging buahnya.
2. Cara panen 

Cara panen dapat mempengaruhi kualitas buah karena itu panen harus dilakukan secara hati-hati jangan sampai jatuh dan rusak. Buah yang rusak akan menurunkan harga, karena tampak tidak menarik dan akan mempercepat kerugian dalam panen, alpukat sebaiknya dipetik secara hati-hati, yaitu dengan menggunakan alat. Alat yang digunakan biasanya berupa jaring yang dipasang diujung bambu/kayu.

3. Hasil panen 

Satu pohon alpukat bisa menghasilkan 100-500 buah alpukat. Setiap buah memiliki berat 200-400 gram. Buah yang telah dipetik kemudian dikumpulkan dalam keranjang besar, bisa juga dengan menggunakan karung goni.



Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penanganan paasca panen, adalah pencucian, sortasi, pemeraman, pengemasan, pengangkutan dan penyimpanan.

1. Pencucian

Pencucian buah alpukat bertujuan untuk menghilangkan segala macam kotoran yang menempel dan dapat mengganggu kondisi buah. Cara pencucian buah alpukat tergantung pada kotoran yang menempel. Bila kotoran sangat tebal, buah dibersihkan dengan cara merendamnya didalam air. Namun bila kotoran tipis cukup dengan kain basah atau kering.

2. Sortasi 

Sortasi dilakukan bertujuan untuk memilih buah yang baik dan memenuhi syarat. Sortasi buah biasanya dilakukan sejak masih buah alpukat berada di tingkat petani. Sortasi juga dilakukan oleh pihak pengumpul sebelum di salurkan ke pasar lokal. Bila alpukat untuk memnuhi kebutuhan ekspor, pihak eksportir tetap melakukan sortasi ulang yang lebih ketat. Buah alpukat yang layak untuk/diekspor dengan ciri-ciri sebagai berikut :
  • Buah alpukat tidak cacat, kulit buah harus mulus tanpa bercak.
  • Cukup tua tetapi belum matang.
  • Ukuran buah seragam. Biasanya dalam 1kg terdiri dari 3 buah atau 5 buah dalam 2kg atau setiap buah berbobot maksimal 400gram.
  • Bentuk buah alpukat seragam. Bentuk buah alpukat yang diekspor bervariasi sesuai dengan pesanan.
Selain ciri fisik buah alpukat, keadaan daging buah alpukat yang dipesan mempunyai kriteria buah alpukat dengan daging buah berwarna kuning mentega tanpa serat. 

3. Pemeraman 

Untuk mencapai tingkat kemasakan/kematangan buah alpukat diperlukan waktu sekitar 7 hari dari saat petik. Pemeraman biasa dilakukan pada buah yang akan di konsumsi sendiri. Bagi para eksportir, pemeraman tidak pernah dilakukan karena tenggang waktunya di sesuaikan dengan lamanya perjalanan untuk sampai di tempat tujuan.

4. Pengemasan 

Kemasan adalah wadah/tempat yang digunakan untuk mengemas suatu komoditas pengumpul mengambil alpukat dari petani dengan menggunakan karung goni. Kemudiaan pada saat alpukat akan dikirim ke pasar, kemasan diganti dengan kotakkayu. Kemasan di tingkat eksportir berbeda lagi, umumnya menggunakan kotak karton berkapasitas 5kg buah alpukat. Kemasan buah alpukat untuk diekspor biasanya dilengkapi dengan tulisan, label dan keterangan mengenai isi serta informasi lain yang diperlukan konsumen. Fungsi kemasan sebagai wadah/tempat, sebagai pelindung, sebagai faktor penunjang dalam penyimpanan dan transportasi, dan sebagai alat untuk bersaing dalam pemasaran. Syarat-syarat kemasan/sbb : tidak toksik, mudah dibuka dan ditutup, ukuran dan berat kemasan sesuai dengan isi.

5. Pengangkutan 

Pengangkutan buah alpukat harus dilakukan secara hati-hati. Agar tujuan pengangkutan dapat terpenuhi, maka selain kondisi alat angkutnya cukup terjamin juga harus memnuhi syarat, sbb :
  • Suasana dalam alat tersebut tidak panas.
  • Berventilasi agar terjadi pertukaran udara.
  • Suhu ruangan harus dingin untuk memperlambat proses pernapasan dan kegiatan jasad renik.
6. Penyimpanan 

Alpukat mempunyai umur simpan sekitar7 hari (sejak petik siap konsumsi) lama penyimpanan ini dapat di perlambat sampai 30-40 hari apabila disimpan dalam ruangan bersuhu 50C. Suasana ruangan penyimpanan yang dingin (bersuhu rendah) akan memperlambat proses respirasi, apalagi bila disertai dengan kondisi buah yang mulus tanpa cacat.

Panen dan Pasca Panen Tanaman Jahe

Pemanenan jahe tergantung pada produk akhir yang diinginkan walaupun umumnya jahe dipanen setelah umur 8-12 bulan. Untuk konsumsi segar sebagai bumbu, maka jahe dipanen pada umut 8 bulan. Sedangkan untuk keperluan bibit,maka jahe dipanen umur 10 bulan atau lebih. Sementara untuk keperluan asinan jahe, dipanen muda, yaitu umur 3-4 bulan.

Mutu jahe yang baik hanya akan diperoleh bila pemanenan dilakukan pada tingkat kematangan yang cukup. Pemanenan dilakukan pada pagi hari dan produk harus diletakkan ditempat yang teduh.

Panen jahe dilakukan dengan cara membongkar seluruh tanaman menggunakan cangkul atau pupuk. Agar rimpang hasil panen tidak lecet dan tidak terpotong, maka perlu kehati-hatian waktu panen karena akan mengurangi mutu jahe. Rimpang dibersihkan dari kotoran dan tanah yang menempel.


Pengangkutan jahe dari kebun ke tempat pengumpulan yang kuranng baik mengakibatkan kerusakan fisik pada jahe tersebut. Lokasi dan kondisi tempat pengumpulan jahe perlu diperhatikan agar dapat memperkirakan penanganan jahe yang harus dilakukan. 

Prose pengumpulan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  1. Lokasi pengumpulan atau penampungan harus dekat dengan tempat penanaman agar tidak terjadi penyusutan atau penurunan kualitas akibat pengangkutan dari dan ke tempat penampungan.
  2. Wadah sebagai tempat penempungan antara lain berupa keranjang,peti atau karung goni yang digunakan untuk mengangkut hasil panen ke tempat penampungan sementara atau gudang penyimpanan. Hindarkan dari kontak langsung dengan sinar matahari.
  3. Perlakuan /tindakan penanganan dan spesifikasi wadah yang digunakan harus disesuaikan dengan sifat dan karakteristiknya.

Pencucian dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan kotoran (tanah) serta residu pestisida. Pembersihan kotoran berupa debu, tanah, serpihan dedaunan dapat disemprot dengan air. Pada saat pencucian jahe tidak boleh di gosok agar tidak lecet.

Cara pencucian hendaknya mengikuti cara yang baik, yaitu :
  1. Menggunakan standar bahanmutu air (standar air minum) untuk mencuci, guna menghindari kontaminasi terhadap produk dari organisme serta bahan pencemar lainnya.
  2. Menurunkan panas lapang atau berfungsi sebagai pre cooling.
  3. Pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan alat penirisan (spiner) atau hembusan angin ke arah komoditas yang telah dicuci.

Grading bertujuan untuk memisahkan produk berdasar mutu, berat dan ukuran. Pemisahan ini dapat didasarkan pada pencirian fisik produk yang erat hubungannya dengan faktor mutu serta tingkat harga jual produk tersebut di pasar. Pada umumnya pemilahan ini masih dilakukan secara visual dan manual baik di rumah pengemasan atau di kebun.

Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar dikategorikan sebagai beriku :
  • Kategori Persyaratan
  • Mutu I Bobot 250 g/rimpang, kulit tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang
  • Mutu II Bobot 150-249 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang
  • Mutu III Bobot sesuai analisis, kulit yang terkelupas maksimum 10%, benda asing maksimum 3% dan kapang maksimum 10%

Untuk di jual segar, jahe dapat langsung dikemas dengan menggunakan peti kayu berongga agar sirkulasi udara lancar. Tetapi bila diinginkan dalam bentuk kering atau simplisia, dilakukan penirisan rimpang setebal 1-4mm. Untuk mendapatkan simplisia dengan tekstur menarik, sebelum diiris rimpang di rebus beberapa menit sampai terjadi proses gelatinisasi. Rimpang yang sudah diiris, selanjutnya dikeringkan dengan panas matahari atau dengan pengeringan buatan/oven pada suhu 36-460C. Bila kadar air telah mencapai 8-10%, yaitu rimpang sudah bisa dipatahkan, maka pengeringan sudah dianggap cukup.

Selain itu, dikenal pula jahe gelondongan (jahe putih kecil dan jahe merah) yang diproses dengan cara rimpang jahe utuh ditusuk-tusuk agar air keluar sebagian, kemudian di jemur panas matahari atau di oven sampai kering atau kadar airnya mencapai 8-10%. Rimpang kering dapat dikemas dalam peti, karung atau plastik yang kedap udara dan dapat disimpan dengan aman apabila kadar air sudah rendah.

Untuk proses pengangkutan harus memperhatikan hal-hal berikut :
  1. Dalam pengangkutan jahe mulai dari lapangan (tempat pengumpulan hasil panen) sampai ke konsumen perlu di perhatikan sifat/karakteristik jenis produk tersebut yang diangkut, lamanya perjalanan, serta alat/sarana pengangkutan yang digunakan.
  2. Jahe yang diangkut sebaiknya terhindar dari sinar matahari secara langsung selama pengangkutan.
  3. Selama pengangkutan, jahe yang diangkut dijaga dari kemungkinan terjadinya benturan, gesekan dan tekanan yang terlalu berat sehingga dapat menimbulkan kerusakan atau menurunnya mutu produk jahe.

Penanaman Aglaonema

Tanaman aglaonema merupakan salah satu jenis tanaman hias daun karena keindahan tanaman ini terletak pada bentuk, corak, dan warna daunnya. Aglaonema di Indonesia disebut juga Sri Rejeki merupakan tanaman dari family Araceae. Habitat asli tanaman ini adalah di bawah hutan tropis, tumbuh baik pada areal dengan intensitas penyinaran rendah dan kelembaban tinggi.

Syarat Tumbuh 

Sifat dari tanaman aglaonema beragam, ada yang dapat terkena sinar matahari dan ada juga yang harus ternaungi, sebagian galaonema dapat hidup di tempat lembab dan sebagian lagi di tempat sedikit kering. Lokasi yang ideal untuk merawat aglaonema adalah daerah yang ketinggian 300-400 m dpl. Namun, tidak menutup kemungkinan juga dapat tumbuh baik di dataran rendah. Sesuai hakikatnya aglaonema menyukai lokasi yang teduh dengan pencahayaan terbatas. Intensitas sinar matahari berkisar10-30%, kelembaban 50-70% dan suhu 28-300C malam hari.

Pot 

Beberapa macam pot yang dapat digunakan sebagai wadah penanaman, yaitu :
  • Pot tanah liat. Pot ini cukup bagus karena dindingnya dapat menyerap dan membuang kelebihan air dalam pot
  • Pot plastik. Pot jenis ini banyak digunakan dalam penanaman aglaonema. Kelemahan pot plastik, yaitu sifatnya yang tidak menyarap air. Namun, kelemahan ini dapat diatasi dengan dibuatkan lubang pembuangan air di dasar pot.
  • Pot keramik. Kelebihan pot ini terletak pada keindahan gambar atau ukiranya. Untuk memanfaatkan kelebihan ini, tanaman dapat di tanam langsung dalam pot.
Pada prinsipnya, aglaonema tidak memilih media tanam yang khusus. Namun, yang pasti media tsb harus dapat menjaga kelembaban atau tidak terlalu basah dan mempunyai drainase yang baik. Untuk memiliki tanaman aglaonemayang tumbuh baikdiantaranyaadalahdengan menggunakanmedia dengan komposisi yang pas,media dengan tingkat keasaman atau pH dan porositas yang ideal sangat baik untuk pertumbuhan aglaonema.

Media tanaman aglaonema juga harus steril, yaitu bebas dari penyakit, tidak mudah lapuk dan hancur. Berikut macam jenis unsur yang digunakan untuk media tanam aglaonema yang tentunya dengan tingkat porositas yang berbeda dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Beberapa unsur media tanam yang dapat digunakan, sebagai berikut : 
  1. Sekam bakar dicampur coco peat dengan perbandingan 50:50. Lalu ditaburi pupuk lambat larut. Oleh karena penyerapan coco peat terhadap air cukup banyak maka sebaiknya dibagian bawah pot atau lapisaan paling bawah media diberi styrofoam yang relatif banyak. 
  2. Sekam bakar, coco peat dan pasir malang dicampur dengan perbandingan 40:40:20. Setelah tercampur rata, ditabur pupuk lambat larut.
  3. Sekam bakar dicampur coco peat dan pasir malang dengan perbandingan 40:20:40. Setelah tercampur rata diberi pupuk lambat larut.
1. Pakis 

Pakis dapat menyimpan air dengan baik dan memiliki drainase dan aerasi yang bagus, akar dapat menyerap air dengan mudah dan leluasa untuk berkembang, tidak mudah lapuk dan memiliki daya tahan cukup tinggi.

2. Sekam bakar 

Sekam bakar memiliki kelebihan unsur yang terletak pada sifatnya yang steril dan daya tahannya mencapai 1 tahun, aerasinya cukup baik namun daya serap terhadap air kurang baik.

3. Pasir malang 

Pasir malang unsur media yang tingkat porositasnya cukup baik, karena itu penggunaannya untuk mencegah media yang telalu basah dan air yang mengenang.

4. Coco peat

Coco peat adalah sabut kelapa hasil olahan. Unsur media ini sangat cocok digunakan bila menginginkan media yang cukup lembab khususnya di daerah yang kering dan panas. Coco peat dapat menahan air cukup lama dalam jumlah yang banyak, namun sifatnya mudah lapuk.


Penanaman aglaonema tidak berbeda dengan tanaman lainnya, hanya diperlukan tambahan styrofoam untuk memudahkan pembuangan air. Pot yang sudah disiapkan di isi dengan syrofoam sekitar 1/3 pot. Lalu media dimasukkan hingga setengah pot. Perlu diperhatikan bahwa akar tanaman dijaga agar tidak rusak. Masukkan tanaman ke dalam pot, lalu diberi media lagi hingga hampir penuh. Setelah disiram, tempatkan tanaman ditempat yang teduh.

Penanaman Lobak

Tanaman lobak termasuk ke dalam famili kubis-kubisan, sama seperti kubis, caisin dan pecai. Tanaman lobak telah diperkenalkan di Indonesia dari Cina selatan beberapa ratus tahun yang lalu. Ubi lobak yang di potong-potong dan di masak merupakan bahan penting untuk semua jenis sup. Di Indonesia pengembangan budidaya lobak pada mulanya terkonsentrasi dibeberapa daerah di dataran tinggi. Namun dalam perkembangannya tanaman lobak ditanam diberbagai provinsi di wilayah nusantara.


Lobak termasuk tanaman semusim atau setahun yang berbentuk perdu. Susunan tubuh tanaman lobak pada dasarnya terdiri atas akar, batang, daun, bunga, dan biji. Perakaran tanaman lobak dibedakan atas tiga macam, yaitu akar lembaga, akar tunggang, dan akar rambut. Akar lembaga terbentuk pada stadium biji berkecambah, kemudian berkembang membesar dan memanjang menjadi akar tunggang dan selanjutnya akan berubah bentuk dan fungsinya sebagai tempat penyimpanan makanan cadangan atau disebut "Umbi" yang sekaligus tempat menempelnya akar-akar rambut.

Bentuk umbi lobak pada umumnya bulat panjang, warna kulit dan daging umbi putih bersih, namun setelah diketemukan ragam varitas lobak hibrida (Daikon) banyak mengalami perubahan-perubahan ukuran ubi maupun warna kulit dan daging umbi lobak hibrida sangat beragam.


Lobak menyukai iklim dataran tinggi yang dingin dengan suhu antara 15 dan 250C. Akan tetapi untuk budidaya lobak dengan suhu yang lebih tinggi memungkinkan dan kira-kira 30% dari areal pertanaman di jumpai di dataran rendah medium antara 200-450m dpl. Lobak jarang dibudidayakan didataran rendah karena hasil yang dicapainya akan rendah dan kualitasnya kurang baik. Lobak membutuhkan suhu yang rendah untuk pembungaan dan produksi benih. Di dataran tinggi (diatas 700m) lobak akan mudah menghasilkan bunga dan biji. Struktur lapisan olah tanah harus agak ringan, dalam, dan tidak berbatu untuk menjamin pertumbuhan yang cepat dan umbinya berkulit mulus. Di tanah yang berat, rasa lobak akan lebih pedas. Lobak agak toleran pada tanah yang sedikit asam dengan PH 5,5 tetapi untuk mencegah penyakit akar gada lebih baik ditanam pada PH lebih dari 6,5.


Lobak di perbanyak secara generatif dengan biji-bijinya. Tiap hektar lahan memerlukan biji (benih) sekitar 4kg dengan daya kecambah 80%. Biji lobak dapat dengan mudah diperoleh ditoko-toko sarana produksi pertanian, terutama biji lobak hibrida. Sedangkan lobak kultivar lokal dapat disediakan petani dengan cara menyisakan beberapa pertanaman di kebun untuk di pelihara hingga bijinya tua (matang) di tanam.

Syarat biji lobak yang baik, yaitu :
  • Biji tampak bernas dan utuh ( tidak cacat)
  • Mempunyai daya kecambah tinggi, yakni lebih dari 80%
  • Kadar air dalam biji antara 9%-12%
  • Tidak mengandung campuran biji-biji atau benda lain.

Pemilihan tanah untuk bertanam lobak adalah lahan terpilih yang sefamili, misalnya kubis, petsai, sawi. Pengolahan tanah untuk kebun lobak sebaiknya dilakukan dua kali, terutama untuk tanah-tanah bukan baru.

Pertama tanah dicangkul atau dibajak sedalam 30-40cm dan biarkan selama 15 hari. Disekeliling kemudian lakukan pemberian pupuk dasar berupa pupuk kandang 10-20 ton perhektar. Pupuk dasar tersebut disebar dan dicampur merata dengan lapisan tanah atas sambil meratakan permukaan tanah.

Tahap akhir adalah membuat alur-alur untuk tempat menanam benih lobak. Arah alur-alur ini sebaiknya membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan sinar matahari sebanyak-banyaknya. Cara pembuatan alur dengan mencangkul tanah secara dangkal pada jarak antara alur 30cm. Tanah yang dicangkul cukup dalam dan sempurna akan memberikan keleluasaan bagi pertumbuhan dan perkembangan akar maupun umbi.


Tanaman lobak tidak tahan terhadap hujan karena itu waktu tanam yang paling baik adalah pada awal musim hujan atau musim kemarau. Di lahan-lahan yang keadaan airnya memadai, waktu penanaman lobak dapat di lakukan pada sepanjang tahun.

Cara menanam lobak cukup praktis, yaitu : biji-bijinya ditaburkan tipis dan merata sepanjang alur-alur (garitan) yang sudah disiapkan. Setelah itu, biji di tutup dengan tanah tipis, lalu tanahnya segara disiram hingga cukup basah (lembab). Biji lobak akan berkecambah setelah 4-5 hari.

Pemupukan Tanaman Alpukat

Tanaman alpukat akan tumbuh baik bila dilakukan pemupukan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman tersebut. Pupuk yang digunakan untuk tanaman alpukat, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pemberian pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah, sedangkan terhadap kimia tanah peranannya adalah menambah nilai tukar kation, gudang hara baik makro maupun mikro dan meningkatkan biologi tanah.

Fungsi pupuk organik, diantaranya :

1. Memperbaiki struktur tanah 

Struktur tanah ada yang ringan atau gembur dan ada yang berat atau liat. Keadaan tanah yang berat tersebut bila diberi pupuk kandang maka tanah menjadi gembur.

2. Menaikkan daya serap tanah terhadap air

Pupuk organik sangat mudah menyerap dan menyimpan air maka sangat cocok untuk pertumbuhan awal dan pada waktu musim kemarau.

3. Menaikkan kondisi kehidupan didalam tanah

Pupuk organik menjadi makanan bagi organisme di dalam tanahsehingga pupuk ini dapat menjaga siklus hidup di dalam tanah.

4. Mengandung zat makanan tanaman

Di dalam pupuk organik terkandung unsur makro maupun mikro yang dibutuhkan tanaman. Namun unsur tersebut hanya tersedia dalam jumlah sedikit. Untuk itu, selain pupuk organik masih diperlukan pupuk anorganik.

Pupuk anorganik diperlukan untuk memenuhi unsur-unsur makro yang dibutuhkan. Pupuk anorganik yang umum dipakai, yaitu Urea, TSP dan KCL. Pemberian pupuk yang baik adalah pada saat menjelang musim hujan. Maksudnya, agar pupuk larut dalam air sehingga akar mudah menyerapnya. Pemberian pupuk mempunyai prinsip efisien. Artinya, semua pupuk yang diberikan harus dapat diserap oleh tanaman. Perlu diketahui bahwa tanaman alpukat hanya mempunyai sedikit akar rambut, sehingga pupuk diletakkan sedekat mungkin dengan akar.

Cara pemupukan 

Jika pohon ditanami pohon yang tetap, maka hanya tanah sekeliling pohon yang dipupuk. Cara memupuk pohon alpukat yang tetap adalah dengan menyebar pupuk ditanah sekeliling pohon itu. Luas lingkaran itu adalah sebesar lingkaran mahkota daun. Untuk pupuk kandang lebih baik dibuat lubang sekeliling pohon dengan ukuran 40x40x30cm. Pupuk dimasukkan ke dalamnya dan kemudia di tutup kembali. Untuk menjaga agar akar pohon tidak rusak, sebaiknya digali lubang yang mengelilingi pohon kearah luar. Macam pupuk yang baik bagi pohon buah-buahan ialah pupuk organik. Pupuk organik dapat berupa pupuk kandang, kompos, sampah, pupuk hijau.

Dosis pemupukan 

Mengingat sistem perakaran tanaman alpukat khususnya akar-akar rambutnya hanya sedikit dan pertumbuhannya kurang ekstensif maka pupuk harus diberikan agak sering dengan dosis kecil. Jumlah pupuk yang diberikan bergantung pada umur tanaman.

Bila pemupukan tahunan menggunakan pupuk urea (45%N), TSP (50%P), dan KCL (60%K) maka untuk tanaman berumur muda (1-4 tahun) diberikan Urea, TSP, dan KCL masing-masing sebanyak 0,27-1,1 kg/pohon, o,5-1kg/pohon dan 0,2-0,83kg/pohon. Untuk tanaman umur produksi (5 tahun lebih) diberikan Urea, TSP, dan KCL masing-masing 2-3,5kg/pohon, 3,2kg/pohon, dan 4kg/pohon pupuk sebaiknya diberikan 4 kali dalam setahun.

Pemupukan Tanaman Aglaonema

Untuk mencapai pertumbuhan yang optimal, setiap tanaman membutuhkan unsur hara. Unsur hara tersebut dari unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro meliputi hidrogen (H), karbon (C), oksigen (O), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), nitrogen (N), dan fosfor (P). Usnur-unsur mikro meliputi tembaga (Cu), besi (Fe), boron (Bo), klor (Cl), seng (Zn), mangan (Mn), dan molibdenum (Mo).

Unsur C, H, dan O biasanya terdapat dalam jumlah yang cukup, bahkan berlimpah di sekitar tanaman. Ketersedian unsur lainnya masih terbatas akan habis diambil tanaman secara terus menerus. Karena itu, tanaman perlu diberi zat hara tambahan berupa pupuk.


Pupuk yang biasa digunakan untuk pemupukan tanaman aglaonema, yaitu NPK. Perbandingan ketiga unsur yang baik digunakan ialah 1:1:1 atau 3:1:2. Unsur N diperlukan lebih banyak karena unsur ini merangsang pertumbuhan daun yang sehat dan segar, serta memperbanyak anakan. Unsur P bisa diberikan lebih sedikit karena unsur ini membantu pembentukan akar, bunga, dan biji. Unsur K diberikan dengan dosis yang cukup. Unsur K berguna memperlancar semua proses yang ada didalam tanaman dan memperkuat jaringan sehingga tanaman tidak mudah terserang penyakit.

Pupuk NPK diberikan melalui akar sehingga pupuk tersebut akan larut, lalu diserap akar. Selain melalui akar, pemberian pupuk juga dapat melalui daun. Pupuk tersebut disebut juga pupuk daun. Beberapa keuntungan penggunaan pupuk daun ialah cepat diserap oleh tanaman. Frekuensi penyiraman pupuk daun dapat dilakukan seminggu sekali. Hal ini sangat bergantung pada jenis pupuk yang digunakan dan takarannya. Misalnya, apabila telah menggunakan pupuk lambat larut, maka pupuk daun dapat diberikan setiap minggu dengan dosis sedikit. Aglaonema bukanlah tanaman yang rakus akan zat hara.

Pupuk yang dapat digunakan, yaitu Growmore, Gandasil D, Hyponex, dan Vitabloom. Selain itu, dapat juga diberi zat perangsang tumbuh agar tanaman mencapai hasil yang optimal, seperti Vitamin, Naelgro, dan Atonik.


Daun aglaonema tampak cantik lebih sesuai dengan warna aslinya. Untuk mendapatkan daun yang cantik dan mulus, aglaonema perlu mendapat pupuk buatan harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Gunakan pupuk yang memiliki komposisi NPK berimbang, seperti NPK.

Bila memakai NPK 15:15:15, maka dosis pemakainnya 2 gram/1 liter air. Dosis dikurangi 1,5 gram/ 1 liter air bila menggunakan NPK 20:20:20. Penyemprotan dilakukan 2 kali dalam seminggu. Mula-mula pupuk disemprotkan ke media dengan menggunakan sprayer. Sisa pupuk dapat disemprotkan ke permukaan bawah daun. Selain pupuk tambahkan vitamin B untuk memacu pertumbuhan.

Jangan memberi pupuk dalam dosis tinggi karena dapat menyebabkan akar terbakar. Pupuk N terlalu tinggi merangsang pembentukan klorofil yang banyak. Meski demikian, secara vegetatif tanaman tumbuh sehat, tetapi penampilan daun menjadi hijau dominan. Bagi aglaonema seperti Adelia atau Tiara yang berdaun merah, munculnya warna hijau kurang diminati karena warna merahnya menjadi daya tarik.

Suplai hara yang kurang juga menyebabkan pucuk daun mengecil dan mengkerut. Penyebabnya adalah ketika fase generatif, hara yang ada dipakai untuk membentuk bunga. Oleh karena daya tarik aglaonema pada keelokan daunnya maka bunga sebaiknya dipotong saja, kecuali bila akan dijadikan induk.

Pengendalian Hama dan Penyakit Alpukat

Serangan hama dan penyakit dapat menyebabkan kematian pada tanaman alpukat. Untuk itu perlu diketahui jenis hama dan penyakit pada tanaman alpukat dan bagaimana cara pengendaliannya.

A. Hama 

Hama merupakan binatang yang mengganggu dan merugikan tanaman. Jenisnya bermacam-macam. Berikut ini hama yang menyerang pada tanaman alpukat.

1. Ulat kipat 

Ulat kipat atau disebut dengan nama ilmiah Cricula trisfenestrata Helf. Ulat ini memiliki tubuh berwarna hitam dengan bercak-bercak putih, kepala dan ekor warna merah serta seluruh tubuh dipenuhi rambut putih. Gejala serangan ulat ini daun-daun alpukat tidak utuh dan terdapat bekas gigitan. Bahkan pada serangan yang hebat, daun dapat habis sama sekali tetapi tanaman tidak akan mati. Terlihat kepompong yang bergelantungan. Umumnya masyarakat tidak memberantasnya karena setelah terjadi serangan, tanaman akan berbunga dan berbuah lebat. 

2. Kutu dompolan putih

Hama ini berbentuk tubuh elips, berwarna coklat kekuningan sampai merah oranye, tertutup tepung putih, ukuran tubuhnya 3 mm. Gejalanya pertumbuhan tanaman alpukat terhambat dan kurus. Tunas muda, batang, tangkai bunga, tangkai buah, dan buah yang terserang akan terlihat pucat dan kelamaan kering. Untuk pengandaliannya dapat disemprot dengan insektisida yang mengandung bahan aktif formotion, monokrotofos, dimetoat atau karbaril.

3. Kumbang bubuk cabang 

Kumbang ini disebut dalam bahas latinnya Xyleborus coffeae Wurth . kumbang ini lebih menyukai tanaman kopi. Tubuhnya berwarna coklat tua dan berukuran 1,5mm. Gejalanya pada tanaman alpukat terdapat lubang yang menyerupai terowongan pada cabang atau ranting. Pada dinding berlubang tadi terkadang ditumbuhi cendawan Ambrosia terowongan atau lubang tadi dapat semakin besar sehingga makanan tidak tersalurkan ke daun. Kemudian daun jadi layu dan akhirnya cabang atau ranting mati. Pengendaliannya cabang yang terserang dipangkas dan dibakar. Dapat juga disemprot insektisida berbahan aktif asetat atau diazinon yang terkandung dalam ortheme 75 SP dengan dosis pemberian 0,5-0,8 g/l dan Diazinon 60 Ec dengan dosis 1-2 cc/l. Cara pengendaliannya selain di semprotkan dapat juga disuntikkan ke lubang tadi.

4. Tungau bercak dua 

Hama tungau ini disebut bercak dua karena pada punggungnya terdapat dua bercak hitam yang meluas ke perut bila telah tua. Tungau betina atau tungau jantan mempunyai warna dasar tubuh hijau kekuningan. Gejala pada permukaan daun terdapat bintik-bintik kuning yang kemudian akan berubah menjadi merah tua seperti karat. Di bawah permukaan daun tampak anyaman benang yang halus. Serangan yang hebat menyebabkan daun menjadi layu dan rontok. Pengendaliannya dapat di semprot dengan akarisida yang berbahan aktif antara lain dikofol, binapakril, dan tetradifon.


B. Penyakit 

Penyakit alpukat yang disebabkan oleh virus dan bakteri, antara lain :

1. Bercak daun atau bercak coklat

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Cercospora purpurea. Jamur ini berwarna gelap dan menyukai tempat yang lembab. Gejalanya ada bercak coklat muda dengan tepi coklat tua dipermukaan daun. Bercak ini berukuran 1mm, bersudut-sudut atau bila bersatu diameternya mencapai 1,5cm. Bagian lain yang diserang adalah buah alpukat. Pengendalianya dengan menyemprotkan fungisida Masalgin 50 WP yang mengandung benomyl, dosisnya 1-2 g/l ; Cupravit OB 21 dosis 4 g/l.

2. Busuk akar dan kanker batang 

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophthoro. Jamur ini hidup saprofit di tanah yang mengandung bahan organik, menyukai tanah basah dengan drainase jelek. Gejala bagian tanaman yang di serang adalaha akar dan batang. Tanaman yang terserang akarnya jadi busuk. Tunas-tunas muda jarang tumbuh, daun yang baru tumbuh ukurannya lebih kecil dan berwarna hijau kekuningan. Pengendalian drainase yang baik dengan membongkar tanaman itu kemudian menggantinya dengan tanaman lain.

3. Busuk buah 

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Botryodiplodia theobromae Pat. Jamur ini menyerang bila ada luka pada permukaan buah. Gejala bagian yang pertama kali diserang adalah ujung tangkai buah dengan tanda adanya bercak coklat yang tidak teratur. Pengendaliannya dengan mengoleskan bubur Bordeaux atau menyemprotkan fungisida volimex 80 WP yang berbahan aktif zineb dan dosis pemberian 2-2,5 g/l.